Kamis, 17 Februari 2011

Mata, Hati dan Telinga

Sore ini hal rutin yang selalu aku lakukan beberapa bulan terakhir sambil menunggu SK pekerjaan ku yang tak kunjung turun yaitu memandikan eyang uti. Eyang uti dan eyangkung sudah beberapa bulan ini tinggal dirumah keluarga ku, karena susternya pulang tak kunjung kembali.

Eyang uti dan Eyangkung merupakan penderita diabetes yang banyak orang bilang sebagai penyakit gula. Pola hidup eyang kung dan eyang uti sangat berbeda. Dengan penyakit gula yang diderita eyangkung dengan giat mengontrol semua makan dengan melakukan diet makanan seimbang, selain itu eyang kung ku juga selalu rutin periksa dokter dan check lab. Beberapa kali aku mengantarkan dan menemani beliau periksa ke Lab dan ke dokter. Karena rumah kami sedang masa perbaikan eyang kung terkadang merasa terganggu oleh alunan perkusi dari bapak-bapak dokter bangunan itu, jadi beliau sering mengajak keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan sambil mengingat beberapa jalan dan bangunan di Kota Surabaya tercinta.

Berbeda dengan eyang kung, eyang uti pada awalnya merupakan sosok nenek yang super sibuk dengan serangkaian kegiatannya di bidang tata rias Pengantin dan Kecantikan Wanita. Semasa beliau sehat waktu 24 jam sehari serasa kurang untuk memenuhi kegiatannya. Selain profesional di bidangnya eyangutiku merupakan seorang nenek yang cinta mati sama cucu-cucu nya *termasuk aku.

Saat menjadi ketua panitia di sebuah seminar atau bahkan menjadi pembicara eyang tidak malu untuk menggandengku untuk naik menemani beliau diatas panggung. Saat itu usia ku mungkin sekitar 5-6 tahun. Eyang uti sebenarnya termasuk nenek yang food-a-holic, kemana kami pergi makan beliau selalu bilang kepada mbak-mbak pelayanan restorannya, "Jeng-jeng, tolong cucu saya ini dipesankan makanan yang paaaaling mahal dan paaaling enak" *tanpa berniat sombong itu sebenarnya ungkapan rasa sayang eyang uti kepada kami cucu-cucunya. Beliau mendeskripsikan makanan yang mahal adalah makan yang paling enak dan paling sehat diantara makanan yang lain.

Beberapa tahun yang lalu eyang uti sempat jatuh dan dinyatakan terkena pengapuran pada tulangnya. Pengapuran pada tulangnya serta tingkat gula darahnya yang tinggi memaksa eyangku untuk lengser dari segala macam kegiatan merias pengantinnya. Dan sejak saat itu rasanya dunia begitu berubah bagi eyang uti. Beliau sulit berjalan, penglihatannya juga sudah mulai berkurang, sehingga membuat beliau hanya duduk di kamar dan sesekali keluar untuk duduk bersama kami sekeluarga untuk sekedar bercerita pada masa kejayaannya dulu dan mendengarkan cerita aktifitas putra-putri serta cucu-cucunya.

Hal nyang membuat aku bersyukur yaitu Alhamdullilah Allah masih memberiku kesempatan untuk bisa menemani eyangkung dan eyang uti sehari-
hari sampai dengan sekarang. Allah sangat sayang pada keluargaku. kami diberi cinta yang begitu besar di dalam satu rumah.

Maka kehadiran eyangkung dan eyang uti serta keluargaku memberikan kenyamanan dan rasa syukur yang begitu mendalam. Mari buka mata, hati dan telinga bahwa sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta dari nya.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar